Sabtu, 27 Desember 2008

Jangan Keburu Senang Bila Anak Tenang

Jika boleh memilih, pasti tak banyak orang tua yang ingin punya anak rewel. Bocah berpembawaan anteng (tenang) konon lebih gampang diatur ketimbang yang ceriwis.
Namun, kalau kelewat tenang, waspadalah! Bisa jadi itu karena ada gangguan pendengaran yang membuatnya tidak ngeh terhadap dunia sekitar.
Ny. Sum (23 tahun) baru saja pulang dari Puskesmas. Dia cemas bukan main, karena Andi, anak kesayangannya yang baru berusia 15 bulan, ternyata harus dibawa ke dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan). Oleh dokter di Puskesmas, Andi diduga menderita gangguan pendengaran Ny. Sum mulanya tak percaya. Namun, ketika mengingat kembali gejala-gejala mencurigakan yang terjadi beberapa bulan terakhir, ia jadi mengerti.
Ia ingat, sejak bayi, Andi tergolong anak yang tenang, bahkan terlalu cool. Bila sedang tidur atau disusui, perhatiannya tidak pernah terusik pada kejadian di dekatnya. Bahkan, sendok atau piring jatuh disampingnya tidak lantas membuat Andi terkejut. Ketika berusia satu tahun, Ny. Sum makin yakin, ada sesuatu yang kurang beres pada anaknyan, sebab Anto, anak tetangganya yang seusia dengan Andi sudah dapat berkata-kata, paling tidak mengucapkan mama, papa, mimi. Tapi Andi belum dapat mengucapkan satu kata pun dengan jelas. memang pada saat kehamilan, ia sempat minum berbagai macam ramuan, jamu peluntur dan berbagai macam obat untuk melancarkan menstruasi. Dia dan suaminya masih belum ingin punya abak, sebelum kondisi keuangan keluarga mantap.
"Kini kecurigaan berbulan-bulan itu menjadi kenyataan,"bisik Ny. Sum lirih
Kurang akustik

Organ pendengaran merupakan salah satu modal vital. Manusia sebagai makhluk sosial dapat hidup, berkembang, belajar, serta menikmati kehidupan secara utuh, salah satunya karena memiliki kemampuan berbicara.

Nah, gangguan perkembangan indera pendengaran pada bayi dan anak jelas akan mempengaruhi kemampuan mereka berbicara. Gangguan itu dapat terjadi dalam berbagai tingkat, mulai gangguan ringan, sedang, berat, sampai sangat berat.

Proses mendengar sendiri merupakan rangkain kejadian yang diawali dengan adanya suara atau bunyi yang ditangkap oleh daun telinga. Bunyi itu lalu diteruskan melalui liang telinga, sehingga dapat menggetarkan gendang telinga. Setelah menggetarkan gendang telinga, energi akustik akan diperbesar oleh rangkaian tulang pendengaran untuk kemudian diteruskan ke telinga dalam.

Di telinga dalam, energi akustik diubah menjadi impuls listrik, sehingga dapat diteruskan ke saraf pendengaran. Oleh saraf pendengaran, impuls itu dikirim ke pusat persepsi pendengaran di otak, dalam bentuk "jadi". Maksudnya, sebagai suara atau bunyi yang sesuai dengan frekuensi, intensitas, dan harmoni nada yang saat itu didengar. Jika ada organ pendengaran yang terganggu, rangkaian yang telah tertata rapi itu tentu akan berantakan.

Ribetnya, kerusakan pada organ pendengaran tidak hanya bisa menimpa orang dewasa, tak pandang pria atau wanita, serta tak mengenal usia. Penyakit ini bisa muncul di berbagai fase kehidupan, mulai dari bayi dalam kandungan, ketika proses kelahiran, saat bayi baru lahir, di masa pertumbuhan, masa kanak-kanak, hingga dewasa, bahkan lanjut usia.

Yang suka telat diantisipasi biasanya gangguan pendengaran pada bayi atau anak. Bayi dan anak yang menderita kerusakan organ pendengaran tidak bisa mendengar suara dan bunyi-bunyian di sekitarnya, lantaran lemahnya informasi akustik atau sama sekali tidak ada informasi akustik yang sampai di pusat persepsi pendengaran. Kalau dibiarkan terus, bisa melemahkan fungsi sel-sel pendengaran di telinga dalam, saraf pendengaran, dan pusat persepsi pen-dengaran.
Bayi pun tidak dapat mendengar dengan baik. Jika masih dibiarkan juga, bayi atau anak tidak akan memiliki kemampuan berbicara atau tuli bisu (deaf-mute).

Tak terganggu petir

Banyak faktor yang memungkinkan bayi dan anak mengalami gangguan pendengaran. Mari kita mulai dari fase paling dini, yakni saat bayi berada dalam kandungan.

Penyebab gangguan pendengaran pada bayi dalam kandungan bisa karena faktor genetik (keturunan) dan non-genetik. Gangguan yang disebabkan faktor genetik masih jarang ditemukan, biasanya dirunut berdasarkan riwayat gangguan pendengaran menurut garis keturunan.
Sebaliknya, gangguan akibat faktor non-genetik sering dijumpai. Misalnya, karena upaya pengguguran kandungan, defisiensi zat gizi pada masa kehamilan, pemakaian obat yang bersifat meracuni fungsi pendengaran, seperti kina, streptomisin, garamisin, neomisin, salisilat, dan lain-lain. Bisa juga karena infeksi atau virus, seperti infeksi toksoplasma, rubella, herpes, sifilis, campak, serta parotitis yang terjadi pada saat kehamilan.
Pada fase pertumbuhan bayi dan anak, penyebab gangguan pendengaran mungkin saja datang dari beberapa infeksi berat yang disebabkan bakteri dan virus, seperti meningitis dan ensefalitis. Selain itu, masih ada beberapa penyakit infeksi saluran napas atas yang sering diderita bayi dan anak, yakni infeksi dinding tenggorok dan amandel, infeksi hidung, dan infeksi sinus di sekitar hidung. Semuanya berpotensi menimbulkan infeksi telinga, yang bisa berujung pada gangguan pendengaran.

Penyebab lain yang dapat menyerang organ pendengaran bayi dan anak adalah kotoran telinga nan padat, benda asing di liang telinga seperti manik-manik, kacang, dan lain-lain. Juga alergi hidung yang tidak ditangani dengan baik.

Lalu, bagaimana cara menangkap gejala gangguan pendengaran, agar penanggulangannya tak terlambat?

Ciri-ciri bayi atau anak yang menderita gangguan pendengaran, saat tidur tidak pernah terbangun, meskipun ada suara atau bunyi keras atau gaduh di sekitarnya. Bahkan bunyi petir sekalipun tidak membuatnya kaget. Gejala ini patut diwaspadai, karena bayi yang baru lahir lazimnya terkejut (mengedipkan mata), menarik kedua tangan dan tungkainya bila ada orang bertepuk tangan pada jarak 30 - 50 cm di samping telinganya.
Pada umur 3 - 5 bulan, orangtua dapat melakukan pemeriksaan sederhana dengan cara sebagai berikut: saat bayi terjaga, ibu menggendongnya, sedangkan bapak atau anggota keluarga lain bertepuk tangan atau membunyikan sendok atau piring pada jarak 2 m di belakang si bayi, sehingga tidak terlihat. Ibu memperhatikan respons bayinya, apakah ia terkejut atau adakah gerakan mata atau upaya menggerakkan kepala mencari sumber bunyi? Bila bayi merespons (terkejut dan menggerakkan kepala mencari sumber bunyi), berarti dia dapat mendengar. Namun, bila tidak, upayakan untuk memeriksakannya ke dokter.
Cara lain, perhatikan perkembangan wicara bayi. Pada umumnya, bayi berusia 4 - 6 bulan su-dah mulai dapat mengoceh bubling, terutama di pagi hari. Ketika memasuki usia 7 - 10 bulan, mulai dapat mengatakan dua suku kata, seperti da-da atau ta-ta. Pada saat bayi berusia 9 - 13 bulan, ia sudah dapat mengucapkan mama atau papa. Nah, bila sampai usia tersebut bayi Anda masih belum menunjukkan kemampuan berbicara yang berarti, tidak ada salahnya membawanya ke dokter.
Penanganan terpadu

Ketika bayi mulai memasuki usia kanak-kanak, orangtua bisa mengenali kemungkinan adanya gangguan pendengaran, dengan memantau perkembangan kemampuan berbicara anak mereka.

Anak yang menderita gangguan pendengaran, biasanya menunjukkan keterlambatan perkembangan berbicara, kesalahan dalam pelafalan, atau pengucapan kata bila dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Kondisi itu menandakan kemungkinan adanya gangguan pendengaran yang tidak terlalu berat.

Namun, bila anak sama sekali belum dapat berbicara sesuai usianya, kemungkinan ia menderita tuli berat pada kedua telinga atau mengalami kelainan lain yang perlu diperhatikan. Misalnya, afasia motorik, cereberal palsy atau kecacatan otak lain. Karena menyangkut faktor-faktor yang cukup kompleks, penanganan penyakit gangguan pendengaran ini sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

Penanganan bayi dan anak yang pendegarannya terganggu mesti dilakukan dengan memperhatikan jenis, tingkat keparahan, serta usia pasien. Diperlukan kerja sama antara dokter spesialis THT, dokter spesialis anak, psikolog serta ahli terapi wicara untuk menentukan kelainan apa yang sebenarnya diderita. Pemeriksaan itu akan menentukan apakah bayi atau anak hanya mengalami gangguan pendengaran, kelainan otak, atau malah gabungan dari keduanya.
Setelah diketahui hasil pemeriksaan, baru dapat ditentukan program rehabilitasi atau habilitasi yang diperlukan. Bila ada gangguan pendengaran berat, penggunaan alat bantu dengar yang tepat dan sesuai sangat dianjurkan untuk merangsang saraf pendengaran dan pusat persepsi pendengaran. Upaya stimulasi pendengaran bayi dengan melatihnya mengucapkan kata-kata sederhana, seraya membelai rambut dan tubuhnya, perlu dilakukan untuk membantu perkembangan saraf pendengaran dan psikologi anak.
Pada anak dengan gangguan pendengaran berat yang telah mencapai usia sekolah, Sekolah Luar Biasa B merupakan sarana yang pantas dipertimbangkan, agar pengembangan diri anak tak terganggu. Upaya deteksi dini dan penanganan memadai, melalui rehabilitasi dan habilitasi pendengaran, memang masih menjadi jalan terbaik dalam menurunkan tingkat kecacatan pen-dengaran. Upaya ini akan berhasil bila ikut melibatkan peran aktif dari orangtua, terutama ibu.
Peran ibu amat sentral, karena ibulah yang selalu berada dekat bayi dan anaknya, sehingga dia lebih cepat mengetahui kelainan perkembangan sang anak. Pengamatan ibu terhadap perkembangan pendengaran dan kemampuan wicara bayi atau anaknya sering berhasil mendeteksi gangguan pendengaran pada tahap paling dini. Pengamatan yang paling gampang adalah membandingkan perkembangan kemampuan wicara bayi dengan bayi lain yang seusia. Bila hasil pengamatan tadi menunjukkan kecurigaan adanya gangguan pendengaran, segera periksakan bayi atau anak ke rumah sakit.
Untuk mencegah bayi-bayi terganggu pendengarannya, ibu memang harus lebih peka terhadap perilaku anaknya yang tidak biasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar